0

Istrimu Bukan Pembantu

Indeed.. Semoga bisa seperti itu ke depannya. Aamiin..
Walaupun sekarang masih lebih banyak gengsinya. Hehe..

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

green gardening time

Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan via Messenger..

  • Me: “Udah berapa bulan dek hamilnya?”
  • Fulanah: “Masuk trimester 3 mbak..”
  • Me: “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”
  • Fulanah: “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat. Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”
  • Me: “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”
  • Fulanah: “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”
  • Me: “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”
  • Fulanah: “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”

Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau…

View original post 1,251 more words

0

Ada kah Setitik Rindu Untukku..?

Rindu itu menyakitkan
Terlebih jika tak disambut dekapan
Rindu itu..
Harusnya jadi penyubur rasa di kalbu
Bukan membelenggu rasa jadi kaku
Rindu itu harapan
Akumulasi asa dengan rasa tak terbilangkan
Rindu itu sebaiknya tak dipendam
Apa lagi hanya disimpan dalam diam
Sampaikan rindu tanpa ragu
Tak perlu jua kamuflase ini-itu
Sebab misteri rindu kadang menjadi pilu
Haruskah rindu menyimpan dendam..?
Tambah lagi membuat geram..?
Mungkin hanya perlu waktu untuk mahir membaca rindu
Ah rindu..
Ada kah setitik untukku..?

0

Apa engkau mencemooh do’a dan meremehkannya? Kau tidak tahu apa yang mampu dilakukan oleh do’a malam, yakni dua tangan yang menengadah pada Allah di malam hari, tak akan pernah kembali dengan sesuatu yang hampa. Dia memiliki tujuan, dan setiap tujuan pasti memiliki akhir pemberhentian. -Bait syair Imam Syafii-

View on Path

0

cukup Dia, jangan manusia

Bahkan ketika semua pintu tertutup rapat, akan selalu ada satu pintu terbuka untukmu.
Ketika tak satu pun telinga mendengar celotehmu, akan selalu ada Maha Pendengar dengan tulus menyimak bahkan semua keluhmu.
Ketika mereka hanya peduli tentang sukamu, seakan turut merayakan kebahagiaanmu,
ketika mereka seolah merasakan pedihmu, padahal mungkin ternyata tertawa atas dukamu, akan ada Maha Penyayang merangkul dan memeluk erat tubuh ringkihmu, tanpa pamrih menghapus lara dan tetap menyayangi sekalipun kau sering melupakanNya.
Tiada yang setara pun sebanding denganNya.
Dialah yang seharusnya kau takuti, kau puja dan puji sepenuh hati.
Sesulit apa pun yang kau hadapi, Dia Maha Pemberi Solusi.
Manusia hanya berucap janji, memberi dengan pamrih dan meminta kembali.
Tak pernah setulus Dia dalam memberi.
Kadang tanpa sadar merasa paling benar dan mengetahui,
padahal tentang esoknya pun ia belum pasti.
Jangan manusia lagi, cukup Dia segala Maha dalam setiap detak nadi.
Cukup Dia, jangan manusia.

0

[Bukan] Janji

Kau bilang empat bagian hati?
Baik.
Tapi sepotong hati telah kubawa berlari ke sini.
Tak usah kau peduli sisa tiga lagi.
Seperti elegi yg kualami satu pagi
Kali ini kembali di satu pagi.
Kenapa harus banyak janji?
Atau itu hanya aku punya imaji?
Masih jelas nyanyian janji
Meski tak mampu kuucap satu-satu lagi.
Karena hati sudah terbawa pergi
Seperti sulit untuk kembali

Ini bukan tentang bilangan waktu
Tapi justru lebih dari itu
Karena tak ada yang dapat membilang kalbu

Lupakan, lupakan janji
Tapi kota itu menanti
Menanti langkahmu yang pasti
Seperti aku menujunya esok hari.
Sayang aku tak disana kala ini
Tapi ia tetap menanti.
Kubiarkan engkau memilih
Walau mungkin tak mudah, tapi setegas hitam dan putih
Agar terlepas dari garis khayali
Demi terpatri sebuah janji
Walau tak tahu untuk siapa nanti.
Meski nanti belum pasti
Menanti langkah pastimu tak mungkin setengah hati.
Mengabdi pada engkau yang selalu terucap dalam doa setiap hari
Ini bukan janji, tapi boleh kau sebut hampir pasti.
Kita hampiri dan lihat nanti

Saat terbangun di bagian barat-laut Pulau Timor.. 030913-23.45

0

Bangunkan Aku

Diam..
Karena terlalu banyak yang ingin kukata
Terlalu banyak yang ingin kutanya
Pejam..
Terlalu banyak yang sedang bermain di salah satu ruang di kepala
Aku masih bernafas, Gusti..
dan setiap helanya seharusnya teriring bagiMu segala puji
Ini hanya imaji, aku tahu..
Ini imaji karena semakin lekat di segala sisi
Bangunkan aku, Gusti..
Berkahi dengan segala nikmatMu.. Ridhoi
Bangunkan aku,
beri petunjukMu, karena hanya Engkau sebaik-baik pemberi petunjuk
Tolong aku,
karena hanya Engkau sebaik-baik penolong.
Izinkan kuberdiri, memilih dan menemukan yang telah Engkau tentukan.
Bangunkan aku, Gusti..
dengan hela nafas yang lebih tenang
dengan lantunan detak yang lebih nyaman
dengan alunan harmoni jiwa raga yang telah Kau cipta.
Bangunkan aku, Gusti..
Karena kutahu ini mimpi yang bisa Kau henti
Cukup sudah jeda ini.

0

Sedikit Drama

Akan terlalu drama mungkin jika kali ini saya merindukan hujan. Bukan apa. Tapi hujan memang sudah setiap hari menyapa Bogor 🙂
Lantas apa yang saya rindukan?.
Rindu?, ah bahkan sepertinya kata itu pun terlalu drama untuk saat ini.
Hanya seperti ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang hilang.
Bukan, bukan janji-janji manis masa depan. Bukan juga puisi cinta yang dikirim melalui pak pos yang sekarang mungkin sudah sangat jarang menyampaikan surat.
Sudah terlalu banyak kalimat yang diperdengarkan. Manis, logis dan realistis. Tapi sayang, terkadang kalimat itu lebih banyak diucapkan oleh mereka yang tak seharusnya menyampaikan. Akhirnya seperti tidak realistis lagi.

Tidak, saya tidak sedang marah. Memang diam. Tapi tidak marah. Walaupun biasanya iya.
Sambil menyesap kopi hangat yang selalu terlarang buat saya. Kali ini tanpa embel-embel susu untuk menetralkan. Hanya diiringi harap dan doa, semoga kali ini jasmani ini bisa diajak kompromi untuk segelas kopi.
Membolak-balik halaman yang saya baca. Rasanya itu-itu juga. Ok, saya tidak fokus!.
Saya tahu ini cuma karena sebaris pesan. Mau tidak mau harus saya akui kekalahan logika mencerna pesan itu. Itu lah kenapa kadang saya kurang suka mengirim pesan. Banyak interpretasi, bisa banyak arti. Apa lagi tanpa kejelasan jeda dan tanda baca. Seperti bicara yang tak jelas artikulasi.

Lewat dua belas malam. Ditemani gerimis yang harusnya menghadirkan suasana romantis.
Sepertinya tergoda untuk gelas ke dua, demi mencerna sederet kata.